Namun,
banyak hal yang menjadi kontroversi ketika mahasiswa menunjukkan betapa cintanya mereka terhadap bangsa ini. Ketika suatu rasa cinta dan “nasionalisme” menjadi suatu tindakan anarkis, maka semuanya akan dirugikan.
Demonstrasi (unjuk rasa) merupakan suatu hal yang wajar untuk menyampaikan aspirasi kita terhadap lembaga ataupun pihak yang kita anggap penting untuk mendengarkan aspirasi tersebut. Hal ini membuktikan bahwa bukan hanya segelintir orang atau pihak tertentu saja yang menginginkan hal tersebut, namun terlebih untuk kepentingan orang banyak. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana kita menunjukkan perasaan kita tersebut terhadap lembaga ataupun pihak yang kita tuju termasuk pemerintah.
Mahasiswa yang disebut sebagai agent of change memiliki andil besar dalam hal ini karena mahasiswa dianggap sebagai kaum intelektual yang adil dan berpihak kepada kebenaran dan rakyat kecil. Oleh karena itu, mahasiswa harus menunjukkan bahwa mahasiswa sanggup untuk mengemban tugas tersebut dengan penuh tanggung jawab dan sepenuh hati. Namun, ketika yang terjadi adalah keresahan bagi masyarakat yang sebenarnya sangat mengharapkan peran mahasiswa, apa yang akan terjadi?
Inilah yang kita lihat akhir-akhir ini. Mahasiswa melakukan aksi demo dengan antusiasme yang sangat tinggi dan berharap apa yang diperjuangkan paling tidak didengarkan oleh pemerintah. Namun yang terjadi adalah semuanya berakhir dengan sia-sia dan sepertinya pemerintah sudah tidak menganggap penting aksi mahasiswa tersebut. Mahasiswa yang terkenal dengan sikap pantang menyerah selalu mencoba dan berusaha untuk melakukan aksi dengan strategi yang lebih baik lagi dan ternyata hasil yang diperoleh tetap saja nihil.
Namun, pantaskah tindakan mulia tersebut berubah menjadi anarkis? Perang di jalanan dengan aparat, saling lempar batu dan merusak fasilitas umum, merusak kantor pemerintahan dan membuat masyarakat makin resah? Akibat yang paling fatal adalah ketika yang jadi korban adalah mahasiswa sendiri. Siapa yang bertanggung jawab?
Akhir-akhir ini kita melihat bahwa sebenarnya wajah pendidikan di negara kita ini sudah sangat terpuruk. Hal ini dimulai dari kasus STPDN, STIP, demo anarkis mahasiswa dan kemudian tawuran antar mahasiswa seperti yang terjadi saat ini. Hal ini tentunya menjadi suatu pukulan dan bahan renungan bagi mahasiswa. Mungkin saat ini masyarakat telah menjadi sedikit kurang percaya terhadap mahasiswa karena melihat kenyataan yang terjadi dalam kehidupan kampus dan berbagai lembaga pendidikan di Indonesia. Apakah demo yang dilakukan tiba-tiba berubah menjadi tindakan anarkis merupakan cerminan dari kehidupan kampus yang sebenarnya? Apakah tindakan demo untuk membela kebenaran dan rakyat kecil merupakan suatu pelampiasan untuk menghindar dari kehidupan kampus? Atau apakah mahasiswa hanya dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab atau punya kepentingan politik lainnya. Saya pikir mahasiswa perlu berhati-hati untuk hal ini. Jika mau berunjuk rasa bawalah massa yang benar-benar mengerti dan paham akan masalah yang sedang terjadi serta bertanggung jawab. Jangan sampai masyarakat berpikir bahwa apakah kegiatan mahasiswa hanya berdemo dan berunjuk rasa saja, kapan belajarnya? Saya pikir saat ini kita pantas untuk menghayati dan merenungkan apa yang telah kita lakukan dan apa yang dapat kita lakukan untuk bersama-sama membangun bangsa Indonesia tercinta ini. Kita sama-sama berharap bahwa pemerintah akan melakukan hal yang terbaik untuk memajukan bangsa kita ini namun kita perlu untuk tetap mengkritisi setiap kebijakan yang dibuat. Memang banyak oknum yang berbuat kurang ajar namun banyak pula orang yang berusaha untuk menyelamatkan Indonesia ini. Bravo mahasiswa, maju Indonesia, bersama kita bisa!
Supardi Manurung
Mahasiswa tingkat IV
Institut Pertanian Bogor
Tidak ada komentar:
Posting Komentar