Lagu-lagu Natal dikumandangkan, pohon-pohon Natal dipasang, berbagai aksesoris Natal menghiasi rumah-rumah, jalan-jalan dan toko-toko bahkan kue-kue Natal sudah disiapkan. Sungguh suatu penyambutan Natal yang indah. Berbagai organisasi, kumpulan marga, arisan, kategorial gereja juga sudah mengadakan acara perayaan Natal meskipun masa Natal belum tiba. Tapi tidak apalah, karena ini merupakan perayaan dan cukup banyak kumpulan yang rindu untuk merayakan Natal. Demi kebersamaan kumpulan (punguan) atau sekedar formalitas belaka agar kumpulannya dikenal orang lain. Sungguh meriah dan saya sendiripun ingin menikmati kemeriahan ini.
(Sebenarnya masa ini masih merupakan masa Advent dimana kita disuruh untuk menunggu hingga 4 (empat) minggu agar kita dapat merayakan Natal. Sejarahnya dulu masa penantian ini harus ditunggu sedemikian lamanya hingga pada saat Yesus lahir sukacitanya menjadi luar biasa). Pada masa Natal kali ini aku sungguh berusaha untuk menghibur diriku sendiri dengan mencoba untuk berpikir apa yang akan kulakukan pada masa Natal ini? Apa yang kuharapkan? Apa yang akan kudapatkan? Masa-masa ini adalah masa penantian yang sangat besar bagi diriku. Agak ironis memang namun ini adalah pilihanku. Aku sepertinya akan menjalani masa Natal kali ini dalam masa pengangguran dan akan melewati tahun ini dengan penuh pengharapan. Pada saat ini seharusnya aku mempersiapkan diri untuk menyambut kelahiran Tuhan Yesus Kristus (dan atau lebih tepatnya untuk menyambut kedatangan-Nya yang kedua kalinya). Namun bebanku menjadi lebih berat karena aku juga harus berjuang untuk mendapatkan pekerjaan yang layak sesegera mungkin. Tahun lalu, aku merayakan Natal dan Tahun baru pada saat aku baru pertama kali bekerja. Memang tidak terlalu istimewa karena aku jauh dari sanak saudara dan di tempat terpencil di Kalimantan Tengah, yang mana suasana Natal dan Tahun baru kurang terasa bagiku. Namun saya cukup senang karena posisi saya waktu itu sedang bekerja. Tahun ini sepertinya kondisinya cukup berbeda. Aku dekat dengan keluarga namun tidak bekerja, ya apa boleh buat? Namun satu hal yang pasti, Natal kali ini membuatku berharap besar kepada Tuhan, aku semakin sadar siapa aku, aku banyak berpikir tentang apa yang kulakukan selama ini. Aku tiada apa-apanya tanpa Tuhan. Berkata memang gampang namun tidak demikian gampang untuk melaksanakannya. Mulut bisa berkata “ya” tapi tidak untuk implementasinya. Yang ingin kulakukan pada masa Natal ini adalah berpikir, berpegang dan yakin akan prinsip hidup yang selama ini Tuhan ajarkan kepadaku, baik itu melalui pengalaman hidup, ajaran agama, orang tua maupun pendeta. Aku ingin bersyukur atas apa yang kualami selama ini. Masa ini adalah penantian yang panjang, butuh kekuatan, ketekunan, kesabaran dan ketabahan. Banyak usaha banyak juga rintangan dan tantangan yang timbul, baik dari dalam diri sendiri maupun dari luar. Namun aku tahu bahwa inilah yang diingankan Tuhan dariku bahwa aku harus menunggu lama sehingga aku mengerti bahwa segala sesuatu itu sangat berharga. Pengharapan ini sangat besar dan ditunggu-tunggu. Aku berharap dapat melalui semua ini dengan penuh syukur kepada Tuhan. Semoga Tuhan mendengar harapan yang selama ini ada di dalam hatiku, hati kita semua dan semoga aku juga dapat menerima segalanya dengan penuh sukacita, rancangan-Nya adalah yang terbaik, Dia yang mengetahui segala yang dipeerlukan oleh makhluk ciptaan-Nya. Semoga aku mendapatkannya. Puji Tuhan, amin…amin..amin.
Berdoalah!
BalasHapus